Jum’at, 31 Mei 2013, saya dinyatakan lulus sebagai salah satu siswa
yang lolos ke perguruan tinggi melalui jalur undangan. Meski tidak se-deg-deg-an
3 hari sebelumnya, di mana SNMPTN diumumkan, tapi saya tetap menerimanya dengan
ikhlas. Ibu pun tersenyum kala itu, ia langsung sumringah, meyakini -ke
depannya- anaknya akan menjadi seorang jurnalis. Dan tiba-tiba beliau jadi
senang menonton tayangan berita.
Sebetulnya saya pun ikut larut dalam alur harapan Ibu. “Sepertinya
keren juga kalau melaporkan berita saat banjir,” pikir saya. Namun saya tetap
sadar, bahwa masuk jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik itu bukan untuk mengejar
menjadi reporter, wartawan, apalagi news anchor, sungguh itu tidak pernah
terbesit dalam pikiran saya ketika mengunci pilihan jurusan saat pendaftaran
dulu. Alasan saya tidak muluk-muluk, saya hanya ingin menjadi penulis.
Sebetulnya novelis, tapi karena di Universitas yang saya pilih tidak ada
jurusan sastra, maka saya memaksakan pendapat bahwa di jurnalistik saya akan
banyak belajar tentang kepenulisan.
Singkat cerita, kuliah pun dimulai. Setelah menjalani masa
Orientasi Pengenalan Akademik Kampus (OPAK) selama tiga hari, akhirnya saya
diizinkan Tuhan untuk betul-betul merasakan atmosfer bangku perkuliahan. Saya
dikenalkan dengan lingkungan baru yang heterogen, dari mulai usia, suku bangsa,
bahasa, latar belakang sekolah, hingga gaya hidup. Saya ingat betul, saat
awal-awal masuk semua anak kelas setiap hari berganti kostum. Ada satu orang
teman yang meramalkan ke depannya pasti baju hari Senin bakal terus dipake sampe
Rabu, bahkan ada yang sampai Kamis. Dan ramalannya tepat, tak perlu waktu lama,
sebulan setelah saling mengenal, fenomena ganti kostum setiap hari itu
benar-benar hanya persoalan ‘gengsi’ saat masih belum akrab.
Sesuatu yang mencemaskan muncul di awal semester, di mana saya
dihadapkan dengan mata kuliah yang memang tidak pernah terpikirkan akan
mempelajarinya. Dua di antaranya Pengantar Ilmu Politik dan Pengantar Ilmu
Ekonomi. Bagi saya dua mata kuliah itu seperti bencana alam. Beruntunglah ada
pelipurnya, yakni Bahasa Indonesia yang oleh Dosennya diubah namanya menjadi
Writing Academy. Andai tidak ada Writing Academy mungkin saya akan betul-betul
beranggapan bahwa masuk Jurusan ini adalah ‘blunder kehidupan’.
Ada dua alasan yang menjadikan mata kuliah Writing Academy begitu
istimewa, selain karena bersangkutan dengan kepenulisan, Dosennya pun sangat
inspiratif. Namanya Dr. H. Agus Ahmad Syafe’I. Beliau menyandang predikat Doctor
di 3 benua. Di Asia ia menuntaskannya di Indonesia, di Eropa ia
menyelesaikannya di Yunani dan terakhir, di benua Australia, Melbourne-lah yang
menjadi saksi kesungguhannya menyelami samudera keilmuan yang luas. Karena
pengalamannya itulah Dr. H. Agus Ahmad Syafe’I mampu menginspirasi
mahasiswanya, termasuk saya.
***
Sejak bertemu dengan mata kuliah Pengantar Ilmu politik dan
Ekonomi, saya baru sadar bahwa Jurnalis memang harus serba tahu dan serba
mengerti, karena tugasnya menyampaikan informasi yang terpercaya.
(to be continue..)
(to be continue..)


sudah lihat yang ini (klik aja)?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar